Transformasi untuk Mewujudkan Misi

Bila merunut perjalanan sejarahnya, sejak berdiri 67 tahun lalu sampai sekarang, BPK Gunung Mulia bukanlah sekadar sebuah organisasi, kelompok, atau perusahaan. Ia adalah suatu semangat. Suatu perpaduan harmonis antara semangat pewartaan Injil Kerajaan Allah, semangat oikumenis, dan semangat kebangsaan Indonesia. Semangat itulah yang terutama terus menjiwai dan menghidupi BPK Gunung Mulia sampai sekarang. Bukan cuma sekadar keinginan untuk berbisnis buku.

Semangat ini diawali dengan dibentuknya Badan Penerbit Darurat dari Gereja dan Pekabaran Injil ( Noodleectuurcommissie van Kerk'en Zending ) pada Oktober 1946. Tujuannya adalah melayani gereja dan umat Kristen di seluruh Indonesia untuk menyediakan buku-buku Kristen berbahasa Indonesia.

Ini adalah wujud upaya kesatuan gereja-gereja Indonesia yang dipelopori oleh Dr. Johannes Verkuyl (utusan Injil dari Gereja Gereformeerd) bersama sejumlah tokoh Zending (badan pekabaran Injil) dan Gereja Protestan di Indonesia (Indeische Kerk), Gereja Gereformeerd (gereja asal Verkuyl), Young Men's Christian Association (YMCA), Bond voor Evangelisatie (Ikatan Penginjilan, yang dipimpin Jan. C. Hoekendijk, (yang menjadi tokoh Dewan Gereja Sedunia), dan sejumlah tokoh Kristen Indonesia seperti, dr. J. Leimena, Mr. A. M. Tambunan, Pdt. B. Probowinto, dan Pdt. J. Rumambi.

Pada saat itu kehidupan rakyat Indonesia masih morat-marit, termasuk kehidupan gereja dan zending yang hadir di negeri ini. Namun, hasrat untuk berbuat sesuatu yang berguna dalam membangun kehidupan gereja dan bangsa berkobar demikian kuat.

Pembentukan badan ini terkait dengan pergerakan kebangsaan dan politik Indonesia pada dasawarsa 1940-an. Waktu Belanda menjajah Indonesia, di negeri ini telah bekerja sejumlah badan pekabaran Injil (Zending), yang menghasilkan sejumlah gereja. Di berbagai penjuru tanah air telah diupayakan pengadaan dan penyebaran lektur (bahan bacaan) Kristen berbahasa Jawa, Melayu, dan Belanda. Tetapi, upaya itu berjalan sendiri-sendiri, sesuai dengan kebutuhan, tujuan, serta corak ajaran yang dianut dan dikembangkan oleh masinG-masing zending dan gereja yang didirikannya.


Gereja-gereja Bersatu padu

Waktu Jepang menjajah Indonesia (1942-1945), selain mengalami pembantaian, sejumlah penginjil dan pengerja asal Eropa ditawan (internir), antara lain di kamp tawanan Cimahi. Di situ, mereka tidak berdiam diri dan menyesali nasib. Mereka berpikir, berupaya, membentuk kelompok studi dan diskusi. Salah satu hasil pemikiran mereka adalah adanya kebutuhan bersama gereja-gereja Indonesia untuk menyatukan usaha-usaha yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Dr. Johannes Verkuyl yang menjadi salah satu tokoh utama berdirinya BPK-GM Gunung Mulia. Beliau aktif sampai kembali ke Belanda pada 1963. Verkuyl berperan aktif sebagai konseptor, pendorong, pimpinan perusahaan, penulis, bahkan pencari dana untuk BPK- GM. Lebih dari 30 karya beliau yang berkali-kali dicetak ulang dan dihibahkan kepada penerbit.


Masa perintisan & transformasi organisasi

Atas bantuan Zending Gereja Gereformeerd Belanda, dibelilah lahan dan bangunan di Jalan Kwitang 22, Jakarta Pusat. Pada tahun 1968-1971, gedung BPK-GM direnovasi dan diperluas sampai Kwitang 23, yang sampai sekarang masih menjadi kantor penerbitan dan toko buku BPK-GM. Selain itu dilakukan pula reorganisasi dan pembenahan BPK-GM.


Kemitraan dengan Gereja

Untuk menjalankan misi ini BPK-GM tidak berjalan sendiri. Kita selalu mengingat sejarahnya yang berakar pada gereja-gereja dalam semangat oikumenis. BPK-GM dibentuk dari gereja, oleh gereja dan untuk gereja. BPK-GM akan selalu menjiwai semangat ini. Karena itu, BPK-GM selalu menjalin kerja sama dengan gereja dan lembaga-lembaga kristiani.


Relevansi Visi & Misi BPK-GM dengan Kekinian

Dalam makalah Komisi Teologi Yayasan BPK Gunung Mulia, Persepsi tentang Masyarakat Modern dan Skuler Masa Depan (1986), Pdt. Eka Darmaputera, Ph. D, telah menyampaikan visinya dua dasa warsa ke depan:

Ciri pokok masyarakat modern adalah diferensiasi sosial yang makin rumit, yang membagi manusia ke dalam sektor-sektor kehidupan yang otonom. Konsekuensinya adalah terciptanya spesialisasi dan spesifikasi kehidupan. Di mana dampak negatifnya terhadap keimanan umat adalah, kecenderungan bahwa kedudukan Allah tidak lagi merupakan satu-satunya the ultimate reality , digantikan oleh ilmu pengetahuan. Agama dan teologi tidak lagi merupakan sesuatu yang ada di atas segalanya. Ia hanyalah salah satu sektor dalam kehidupan manusia. Tetapi, dalam kondisi manusia yang serba teralienasi inilah, di mana hidup semakin terpilah-pilah, justru sesuatu yang menawarkan keutuhan lebih merupakan kebutuhan. Inilah peluang bagi penerbitan Kristen

Dalam situasi ini menjadi relevan agar penerbit bahkan gereja seyogianya menghadirkan wacana-wacana yang bertitik tolak dari kebutuhan, kenyataan, dan pergumulan konkret umat. Metodenya deduktif, bukan induktif. Bukan sekadar buku-buku yang menawarkan fatwa-fatwa, tetapi buku yang dengan empati mengajak pembaca bergumul bersama di tengah situasi mereka.

Ketika alam (baca: ilmu pengetahuan modern) telah menggantikan Allah, sebenarnya iman kita mengatakan, Allah tetap hadir dan bekerja, betapapun ia ditolak. Dia hadir dan bekerja secara baru setiap kali. Ketika manusia, yang di bibirnya mungkin menolak Allah, tetapi sebenarnya dalam seluruh hidupnya ia mencari sesuatu yang tanpa disadari dan dimauinya, ialah Allah.

Dengan bertitik tolak pada iman kristiani, BPK-GM bisa berkontribusi positif bagi pembangunan bangsa, dengan menyediakan buku bacaan yang mendorong partisipasi warga gereja yang bersifat positif, kreatif, kritis, konstruktif, dan berwawasan kebangsaan.

Dalam ungkapan T.B. Simatupang, masyarakat Indonesia akan menikmati sumbangan yang amat berharga dengan buku-buku yang mengangkat masalah pembangunan bangsa yang bersumber pada iman kristiani, tetapi disampaikan dengan bahasa Pancasila.

Dalam bukunya, Gedenken en Verwachten , Bab Panggilan Pelayanan Literatur Kristen, Urgensi dan Maknanya, pendiri BPK-GM, Dr. J. Verkuyl menyatakan:

Sejak awal sejarah Penyataan Allah, Roh Allah bukan hanya mendorong adanya firman yang diucapkan, tetapi juga firman yang ditulis... . Dalam sejarah semua gereja di dunia ini, dapat kita amati bahwa gereja-gereja yang berakar dalam kehidupan, dan kebudayaan masyarakat, mengembangkan bacaan Kristen. Bacaan Kristen merupakan sarana komunikasi Injil yang tidak ada taranya. ... Bila ada gereja yang melalaikan panggilan pewartaan Injil melalui bacaan, berarti gereja telah melalaikan salah satu tugas panggilan yang sangat asasi yang Tuhan percayakan kepada kita

Adalah juga menjadi kewajiban semua warga gereja untuk ikut membawa Injil Kerajaan Allah ke bumi ini, secara khusus dalam bentuk tulisan. Karena itulah, visi BPK-GM Gereja yang membaca dan Gereja yang menulis menjadi cita-cita kita bersama di masa depan. Kami mengajak warga Gereja untuk membudayakan minat baca, yang dikembangkan menjadi minat menulis.

Dalam rangka itu, BPK-GM akan terus berupaya untuk menjadi penerbit Kristen pilihan, pusat literatur, dan pusat pelatihan kristiani. Misinya adalah, mendukung gereja mewartakan Kabar Baik lewat tulisan, dan menjadi mitra strategis gereja dalam menyediakan kebutuhan literatur.

Pada HUT ke-65 di Oktober 2011 BPK-GM juga memperkenalkan logo baru yang melambangkan semangat perubahan mengikuti perkembangan zaman. Dengan semangat baru yang dijiwai oleh semangat para pendirinya inilah, BPK-GM mengajak gereja untuk bersama kita bermitra, melakukan fungsi dan tugas panggilan kita masing-masing, untuk menghadirkan Injil Kerajaan Allah dalam konteks Indonesia, baik lewat sapaan mimbar secara lisan, maupun melalui Injil yang dituliskan. BPK-GM akan terus menghidupi semangat mereka, sampai apa yang kita cita-citakan bersama di bumi Indonesia ini terwujud.