Synopsis

Dalam buku yang mencerahkan ini, Graeme Auld membantu pembaca mengerti pesan yang bersifat kesejarahan maupun teologis yang terdapat dalam kisah kerajaan Israel. Periode yang dibahas terentang mulai dari hari-hari terakhir Raja Daud dan pemerintahan Salomo hingga pada akhir kerajaan dan kehancuran Yerusalem dan Bait Suci.
Ditujukan kepada orang-orang Israel yang kini berada dalam pembuangan, kedua kita ini menekankan bahwa ketika raja Israel, yang mencoba untuk memperbaiki perkara-perkara politik, ekonomi, dan kebudayaan, membuat rakyatnya berpaling dari Tuhan, rakyat kehilangan harta milik duniawi mereka dan juga kemurahan Tuhan. Pesan dari kitab ini masih tetap relevan dengan dunia masa kini karena berkenaan dengan kekuatan dan keinginan yang terus-menerus untuk tetap setia pada kuasa yang lebih tinggi daripada penguasa-penguasa dunia.
Seri Pemahaman Alkitab Setiap Hari (PASH) yang ditulis oleh William Barclay telah dikenal oleh banyak orang. Seri komentar atas Perjanjian Baru itu telah banyak membantu umat Kristen di Indonesia. Kini, dalam seri yang sama, PASH Perjanjian Lama diterbitkan sebagai pendamping.

back to top ^
Editorial Review

Menarik jika kita membaca karya A. Graeme Auld ini. Buku ini adalah tafsiran tentang Kitab Raja-Raja, sebuah kisah yang panjang yang mengisahkan semua raja Israel meskipun tidak dikisahkan secara mendetail seperti ketika penulis Kitab Raja-raja memaparkan kisah Raja Saul, Daud, dan Salomo. Namun, Kitab Raja-raja ini tetaplah sumber yang sangat vital dan kaya untuk membangun iman umat KristenAuld mengupas Kitab Raja-Raja ini dengan memakai tiga metode penafsiran: pertama, kritik sastra.  Kritik sastra menekankan tentang komposisi dan gaya retorika teks.

Karena kritik sastra juga menganalisis tentang sumber teks, Auld menemukan sumber-sumber yang dipakai oleh penulis Kitab Raja-Raja. Menurutnya, sebagian kitab ini diambil dari data resmi kerajaan, bahkan sebagian teks diambil dari Kitab Tawarikh.  Bahkan, dari kritik teks ini, Auld kemudian mengungkapkan satu fakta yang patut dijadikan perdebatan teologis, Auld mempertanyakan tentang kebenaran kedua belas suku Israel. Baginya, kemungkinan kedua belas suku Israel ini, yang selama ini diasosiasikan dengan keturunan Yakub, meragukan. Baginya, yang tepat adalah kedua belas suku Israel ini bukan diikat oleh darah, melainkan letak geografis.

Maksudnya, kedua belas suku ini adalah nama tempat dan bukan berasal dari kedua belas keturanan Yakub tersebut.
Kedua, Auld memakai kritik historis untuk mengungkapkan bahwa teks ini diangkat dari kisah sejarah, memuat dimensi historis-kronologis. Jadi, Kitab Raja-Raja adalah kisah sejarah dengan tokoh-tokoh yang nyata, meskipun beberapa teks ditambahkan dan dikurangi karena telah melewati serangkaian penyuntingan dalam kurun waktu yang panjang. Dari kritik sejarah ini, Auld menemukan berbagai keganjilan tentang tokoh-tokoh di dalamnya dan mencoba memberikan penilaian objektif atasnya, bahkan` memberikan fakta baru bagi para pembaca dan penafsir. Misalnya, ketika Raja Daud banyak dipuji oleh penafsir lain karena kebijaksanaanya mejalankan keadilan dalam pemerintahannya, bagi Auld penafsiran seperti itu terlalu naif. Menurutnya, Daud adalah orang yang licik, bukan hanya karena ia menginvansi bangsa-bangsa di sekitarnya, ia juga dalang di balik kematian Uria, suami Batsyeba, prajurit setia yang dikorbankannya untuk menutupi perzinaannya. Bahkan, menurut Auld ia adalah raja yang bodoh karena mampu diperdaya oleh tipu daya Batsyeba untuk mendudukkan Salomo di takhta Daud. Begitu juga dengan Salomo, bagi Auld, kelakuan Salomo tidak lebih baik daripada ayahnya karena ia membangun Bait Suci dengan memakai tenaga-tenaga para budak. Ia membangun istana yang lebih megah daripada bangunan Bait Suci yang dibangunnya untuk Allah. Selain itu, ia juga telah menempatkan istri-istrinya di kompleks bangunan Bait Suci berada.

Ketiga, kritik redaksi. Kritik ini menggali kedudukan teks dalam kehidupan umat manusia. Roh dalam kritik ini adalah mengungkapkan makna Kitab Raja-Raja dalam kehidupan manusia. Bagi Auld, Kitab Raja-Raja kaya dengan intrik politik. Namun, bagi Auld narasi dalam Kitab Raja-Raja mempunyai tujuan yang jelas bahwa Kitab ini menunjukkan kedaulatan Allah dalam kehidupan manusia. Bahwa Allah yang telah mengatur segala sesuatu bagi umat-Nya, baik susah maupun senang.




back to top ^
Details
Paperback: 418 pages
Publisher: BPK Gunung Mulia
Edition: 1
Language: Indonesia
ISBN-10: 978-602-231-361-8
ISBN-13: -
Product Dimensions: 12x18x2 cm
Shipping Weight: 300 gr
back to top ^
Table of Content

-

back to top ^
Customer Review
Average rating rating
back to top ^