Synopsis

Buku ini merupakan buku Max Lucado ke-3 yang diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia. Buku yang pertama adalah ”Lilin Pengharapan” dan ”Aktoraktor Allah”.

Gaya khas Max Lucado muncul dalam buku ini: bernas, tajam, dan imajinatif. Ia selalu berhasil memilih kata-kata dan ilustrasi yang tepat dan menarik dalam menuangkan ide-idenya. Dengan gaya khas dan kemampuannya, ia kini menuliskan suatu topik yang juga sangat menarik: bagaimana membuat hidup kita menjadi lebih bermakna dengan cara berbuat kebaikan dalam berbagai karya nyata kepada orang lain—kita diciptakan untuk membuat perbedaan yang bermakna bagi orang lain. Menurut Leighton Ford, yang memberikan kata pujian untuk buku ini, Max Lucado:
… selalu menulis dengan kesederhanaan, kelembutan, dan imajinasi. Di sini ia membuka hatinya dengan tujuan memastikan atau memungkinkan Anda bangkit dan keluar dari jalan Anda menuju berkat yang melebihi imajinasi Anda.

Dalam 16 tulisan, Max Lucado mengupas berbagai topik yang dimaksudkan untuk memancing pembaca bagaimana membuat perbedaan yang bermakna dalam kehidupan mereka. Ia mengundang pembaca untuk melakukan karya nyata dalam kehidupan sehari-hari dengan mengambil contoh dari Kitab Kisah Para Rasul. Ia mengajak pembaca untuk melampaui
dirinya sendiri—mencoba melihat diri sendiri, yang memang hanya ”orang biasa” tapi mampu melakukan sesuatu yang bermakna. Sama seperti para Rasul yang hanya orang biasa dan penuh ketakutan, kita pun diundang untuk berbuat konkret bagi sesama yang membutuhkan, terutama orang miskin.

Buku ini membeberkan berbagai nasihat dan dorongan untuk melampaui rasa rendah diri, rasa ”biasa” kita, serta berbagai halangan lain dalam berkarya bagi sesama. Selain itu, buku ini mengajak pembaca untuk mencari hal-hal apa saja yang dapat dilakukan serta bagaimana caranya. Hal yang terakhir ini (”bagaimana caranya”) diberikan dalam contoh-contoh konkret pada bagian lampiran di akhir buku.

back to top ^
Editorial Review

Buku ini berisi terdiri dari 16 bab. Satu buah pengantar atau pendahuluan yang berisi suatu kisah mengenai Pendeta Benyamin dan suatu lampiran “Pembahasan dan Pedoman Tindakan”. Bagian lampiran tersebut adalah kelebihan buku ini: suatu deretan contoh tindakan konkret dari masingmasing bab/tulisan. Di situ, para pembaca dapat melihat sendiri bagaimana mereka dapat mempraktikkan apa yang baru saja mereka baca.

Pada bagian pendahuluan, penulis menceritakan suatu perumpamaan mengenai Pendeta Benyamin. Melalui perumpamaan itu, pembaca diajak melihat bagaimana suatu karya nyata dapat sangat berbekas dalam diri orang yang merasakan karya tersebut. “Di mana ada bekas-bekas peninggalan karya nyata seseorang, di situ pulalah orang itu hidup.”

Dalam tulisan pertama dan kedua, penulis mulai membentangkan visimisinya untuk mengajak para orang biasa—kita semua—untuk melakukan hal-hal yang luar biasa. Lucado mengutarakan contoh-contoh orang biasa dari Alkitab (Kisah Para Rasul) dan kehidupan nyata yang melakukan tindakan luar biasa.

Dalam tulisan ketiga, Lucado memperlihatkan bagaimana Allah dapat menerobos “kerang tempat persembunyian” kita. Sering kita punya alasan untuk tidak berbuat baik:
Kita ingin menolong. Namun, masalahnya terlalu besar (bukankah ada satu miliar orang miskin di dunia ini?), rumit (kadang usaha menolong malah jadi merugikan?), dan intensif (saya sendiri punya banyak masalah). (hlm 28)
Lucado mengingatkan: “Alasan seperti itu tidak akan diterima oleh gereja Yerusalem. Apalagi, setelah Allah membuka kerang persembunyian mereka di hari Pentakosta” (hlm 28). Setelah Allah menerobos ketakutan para rasul, mereka berani bersuara dan bertindak. Kita tinggal mencari di mana kita mampu “berbicara” dan “bertindak” sesuai dengan kemampuan dan minat kita.

Tulisan keempat mengingatkan pembaca pada pesan inti dari karyakarya yang kita lakukan: pesan pengampunan dan keselamatan dari Allah di dalam Yesus Kristus. Itulah sebenarnya yang ingin kita sampaikan dalam
semua karya atau perbuatan nyata kita di dunia.

Dalam tulisan kelima, penulis menguraikan pentingnya kerja sama dalam semua perbuatan nyata kita. Sama seperti Gereja Yerusalem dalam Kisah Para Rasul, kita diundang untuk saling tolong menolong dan bahumembahu
dalam semua karya nyata kita. Kesulitan yang satu menjadi
kesulitan semua.

Kupasan dalam tulisan itu diperluas dengan mengajak pembaca untuk memperluas ruang lingkup kasih mereka ke batas-batas yang lebih luas. Itulah inti tulisan keenam: kita diminta untuk membuka hati kepada kelompok orang
yang lebih luas, yang tidak kita kenal—bahkan antarnegara.

Semua saran dan ajakan Lucado tentu mengikutsertakan pada kebutuhan riil dari orang-orang yang akan kita bantu. Dalam tulisan ketujuh, ia “melatih” pembaca untuk membuka mata dan telinga terhadap apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh orang lain.

Sementara itu, penganiayaan atau penindasan sering menjadi ancaman riil bagi kita yang melayani atau berkarya secara nyata di wilayah-wilayah tertentu. Dalam tulisan kedelapan, penulis memberi nasihat mengenai hal ini:
Jadi, bagaimana kita menyiapkan diri? Mudah saja. Tirulah murid-murid Yesus. Perbanyaklah waktu menyambut kehadiran Kristus. Panjatkan syukur kepada-Nya. Renungkan kasih-Nya. Ingatlah janji-Nya. Pandanglah wajah-Nya.
Bicaralah kepada Yesus. Keberanian akan datang ketika kita hidup bersama Yesus.

Dalam tulisan ke-9, penulis mengungkapkan bahaya dalam perbuatan baik kita: munafik. Lucado hanya punya beberapa cara untuk mengatasinya: jangan mencari pujian, lakukan secara tersembunyi, dan jangan berpura-pura
dalam hal spiritualitas. Baru dalam tulisan ke-10, Lucado membeberkan salah satu kelompok orang yang perlu mendapat perhatian khusus dalam karya nyata kita: orang miskin. Mengambil contoh dari Gereja Yerusalem, kita, baik sendiri-sendiri maupun sebagai jemaat, perlu berbuat sesuatu kepada orang miskin. Dalam hal ini, perlu juga kita memilih orang-orang yang ahli dalam mengatasi kemiskinan, sebagaimana dulu para rasul memilih beberapa para diaken untuk mengurusi para janda.

Dalam tulisan ke-11, Lucado mengingatkan bahwa kita tidak pernah boleh melupakan siapa yang menghidupkan dan menopang kita: Allah melalui Yesus Kristus. Ini supaya kita tidak menjadi sombong di tengah upaya karya
nyata kita—apalagi jika karya kita sangat bermanfaat dan dipuji orang. Di dalam karya nyata yang kita lakukan, kita sering terhalang oleh suatu prasangka—suku, ras, perbedaan sosial, dan sebagainya. Kita tidak dapat seperti itu. Di dalam tulisan ke-12, Lucado mengajak kita untuk menghancurkan tembok penghalang/pemisah/prasangka seperti itu.

Belajar dari kisah Ananias dan Paulus, Lucado, pada tulisan ke-13, meminta kita agar tidak mencoret atau meremehkan setiap pribadi yang kita jumpai. Jika Ananias dulu tidak mau menerima pertobatan Saulus, bagaimana
jadinya? Jangan pernah mengabaikan orang yang tampaknya tidak penting. Tulisan ke-14 mirip dengan tulisan ke-12 dan ke-13: perhatian kepada orang lain dan sikap hormat pada orang lain. Pemberian label atau cap kepada
orang lain—apalagi label atau cap yang membuatnya tersingkir—justru menghalangi kita berkarya secara nyata di tengah orang lain.

Tentu saja doa menjadi hal pokok dalam semua karya nyata kita. Sebagai pengikut Kristus, doa menjadi santapan sehari-hari: Awalilah dengan doa dan teruslah berdoa, begitu saran Lucado dalam tulisan ke-15. Ia berkata:
Iblis tidak peduli saat Max Lucado menulis buku atau menyiapkan khotbah, tetapi lututnya gemetar saat Max berdoa.
Akhirnya, dalam tulisan terakhir, Lucado kembali mengingatkan agar kita tetap tekun berbuat baik, berkarya bagi sesama, kapan pun dan di mana pun. Kita tidak akan mengenali di mana ada Kristus. Bagi orang Kristen, ujar
Lucado: tidak ada yang lebih luhur daripada alasan berikut: ketika kita mencintai orang berkekurangan, kita mencintai Yesus. Ini merupakan misteri yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan, kebenaran yang tidak dapat dijelaskan dengan statistik. Ini merupakan pesan yang ditegaskan oleh Yesus: saat kita mencintai mereka, kita mencintai Yesus.




back to top ^
Details
Paperback: 296 pages
Publisher: BPK Gunung Mulia
Edition: 1
Language: Indonesia
ISBN-10: 978-979-687-783-6
ISBN-13: -
Product Dimensions: 15x21x1 cm
Shipping Weight: 360 gr
back to top ^
Table of Content

Pendahuluan
Sebuah Perumpamaan: Mencari Pendeta Benjamin
1 Kesempatan Sekali dalam Sejarah
2 Memanggil Tuan Pot Roast
3 Biarkan Allah Membuka Dirimu
4 Jangan Lupa Rotinya
5 Bentuklah Tim Kerja
6 Buka Pintumu, Buka Hatimu
7 Lihat Kebutuhannya, Sentuh Deritanya
8 Penganiayaan: Bersiaplah dan Lawanlah
9 Berbuatlah Kebaikan secara Diam-Diam
10 Perjuangkan Nasib Kaum Miskin
11 Ingatlah Siapa yang Menopangmu
12 Hancurkan Tembok Penghalang
13 Jangan Coret Nama Siapa Pun
14 Simpan Sikap Aroganmu
15 Awali dengan Doa dan Teruslah Berdoa
16 Lihatlah, Yesus Memainkan Biola!
Pembahasan dan Pedoman Tindakan
Catatan Akhir

back to top ^
Customer Review
Average rating rating
back to top ^