Synopsis

Berdiri di depan kelas, mengajar anak-anak, sebenarnya menakutkan Laura. Namun, pengalaman pertamanya mengajar yang tidak menyenangkan berubah mengasyikkan. Segala sesuatu kini menjadi indah bagi Laura dan keluarga Ingalls, terutama berkat kemajuan Mary di sekolah. Namun, ajakan Almanzo Wilder untuk berkereta kuda di sore hari akhirnya membawa Laura ke dunia yang lebih baru lagi, bahkan membawanya ke suatu rumah kecil yang baru, yang bukan rumah kecil Pa lagi.

back to top ^
Editorial Review

Buku ini terdiri dari 33 bab. Pada bab-bab awal, Laura digambarkan telah
menerima tawaran yang diberikannya pada akhir novel sebelumnya, yaitu tawaran mengajar. Ia kini akan berangkat meninggalkan rumah untuk mengajar di suatu tempat yang jauhnya sekitar 19 kilometer. Ia akan tinggal dengan keluarga dari salah seorang muridnya. Di sini, Laura akan mengajar selama 2 bulan dengan gaji 20 dolar sebulan.

Ini adalah pengalaman pertama Laura tinggal jauh dari rumah untuk jangka waktu yang panjang. Ada rasa takut dan bimbang dalam dirinya: apakah ia akan mampu mengajar, apakah ia akan betah? Ia mengajar dari hari Senin sampai Jumat, dan pada Jumat sore ia akan dijemput Pa untuk pulang ke De Smet, untuk kemudian diantarkan pulang pada hari Minggu sore. Di luar dugaan Laura, ketika akhir pekan pertama ia mengajar tiba, justru Almanzo Wilderlah yang datang menjemputnya. Rupanya Almanzo menawarkan diri pada Pa untuk menjemput dan mengantarkan Laura setiap akhir dan awal pekan. Laura gadis yang sopan, ia tidak ingin memberi kesan bahwa ia senang diantar seorang pria yang bukan ayahnya. Namun, ia dalam arti tertentu gembira walaupun segembiraannya lebih karena ia senang diberi kesempatan naik kereta yang ditarik oleh kuda-kuda jenis Morgan milik Almanzo Wilder! Laura pun gembira karena ia akhirnya dapat mengendalikan
murid-muridnya yang awalnya sulit diatur.

Namun, ia masih kesulitan berinteraksi dengan nyonya rumah tempat ia menumpang, namun ia sudah mulai terbiasa dengan perlakuan nyonya rumah tersebut Bu Brewster yang tidak ramah. Hal ini untungnya terobati dengan adanya penerimaan yang baik dari penilik sekolah, Pak Williams, yang tampaknya puas dengan pekerjaan Laura di situ. Akhirnya, akhir hari mengajar pun tiba. Dua bulan telah berlalu. Laura
mengakhiri kelas dengan membagikan kartu namanya kepada para muridnya. Ia menyemangati para muridnya untuk tetap rajin belajar. Betapa terkejutnya Laura karena para muridnya memberikan bingkisan kepadanya. Itu adalah ucapan terima kasih muridnya yang dulu sempat sulit diatur. Hari itu juga adalah hari terakhir Almanzo menjemputnya. Laura menceritakan hal ini secara ringan tetapi pembaca dapat merasakan kehilangan luar biasa. Apalagi, Almanzo mengucapkan selamat berpisah¬Ě kepada Laura.

Namun, perpisahan¬Ě itu tidak lama, karena pada hari Minggu sore gemerincing giring-giring dari kereta luncur Almanzo berbunyi di depan rumah. Almanzo menawari Laura menghabiskan sore itu dengan berkereta luncur keliling kota! Kereta luncur mereka hanyalah salah satu kereta luncur yang berjalan di jalanan di dalam dan sekitar kota masih banyak kereta luncur lain yang juga ditumpangi pasangan-pasangan lain, termasuk Mary Power dan Cap Garland. Rupanya, itu barangkali cara para muda-mudi pada waktu itu berpacaran. Demikianlah, setiap hari Minggu sore, Laura dan Almanzo kini kerap meluncur di atas kereta yang ditarik Prince dan Lady.

Walaupun Laura memiliki sertifikat mengajar, ia tetap harus belajar untuk menamatkan sekolahnya. Sertifikat mengajar adalah suatu sertifikat yang memang diberikan kepada orang-orang yang dapat mengajar. Sertifikat itu hanya menunjukkan bahwa si pemegang boleh mengajar hal-hal tertentu, tetapi tidak menunjukkan bahwa ia sudah lulus dari pendidikan tertentu. Jadi, sertifikat berbeda dengan ijasah. Begitulah Laura tetap harus belajar di sekolah bersama teman-temannya. Di luar urusan sekolah, Laura juga kembali ke kegiatan lain, seperti kebaktian para hari Minggu (juga sekolah Minggunya). Di samping itu, ia pun ditawari untuk bekerja di kios jahit Bu McKee setiap Sabtu. Pada malam hari, sambil belajar, ia akan ditemani oleh suara biola Pa yang mengalun merdu.

Akhirnya, hal yang ditunggu-tunggu Laura dan keluarga pun tiba: Mary akan pulang pada musim panas. Mary membawa banyak oleh-oleh untuk keluarganya. Untuk Ma, ia memawakan alas lampu; untuk Laura ia membawakan gelang, sementara Carrie memperoleh cincin. Grace pun tidak ketinggalan: ia memperoleh kursi boneka yang cantik. Pa sendiri memperoleh sehelai sapu tangan sutra berwarna biru. Mary memiliki segudang cerita yang dapat ia ceritakan kepada keluarganya. Ini membuat hari-hari di musim panas itu terasa indah bagi keluarga Ingalls. Kesempatan itu dipakai pula oleh mereka untuk kembali untuk banyak mengikuti kegiatan bersama warga kota, seperti ke gereja dan sebagainya. Pada saat itu, karena sekolah telah libur, Laura pun memperoleh pekerjaan di toko pembuat topi dan pakaian milik Nona Bell.

Ketika musim panas berakhir dan Mary kembali ke sekohanya, Laura sangat gembira ketika Almanzo menawarinya menjinakkan sepasang kuda baru yang dimilikinya. Awalnya, Almanzo heran mengapa Laura berani naik di atas kereta yang ditarik oleh 2 ekor kuda baru tersebut, kuda yang masih liar padahal, menurut Almanzo, tidak ada seorang laki-laki di kota, kecuali Cap Garland, yang berani. Laura menjawab keheranan Almanzo: Karena aku yakin kau bisa mengendalikan mereka. Berarti, kini Laura percaya pada kemampuan Almanzo, laki-laki yang sebenarnya masih cukup asing bagi dirinya. Sejak saat itu, pada Minggu sore, Laura menemani Almanzo naik kereta luncur dan menjinakkan kuda-kuda itu.

Pada akhir tahun itu, pada hari Natal, mereka hadir pada acara kebaktian di gereja yang baru. Anak-anak bergembira karena nama mereka akan dipanggil satu per satu untuk mengambil hadiah yang digantung di atas
pohon Natal. Laura memperoleh hadiah misterius: sebuah tas kulit hitam dengan bagian dalam berlapis sutra ungu. Di sutra itu terlihat sebuah sikap rambut yang berpunggung gadih putih dan sebuah sisir. Ketika ia bingung tentang siapa yang telah memberikan hadiah itu padanya, Pa berkata bahwa ia tahu betul bahwa Almanzo Wilder membeli tas itu di toko Bradley. Laura pun heran.

Hubungan Laura dan Almanzo tampaknya semakin serius. Almanzo semakin sering mengajak Laura pergi berjalan-jalan sambil naik kereta pada hari Minggu sore. Perasaan tidak ingin diduakan mulai muncul dalam diri Laura. Ketika pada suatu Minggu sore ia melihat bahwa ada Nellie Oleson di samping Almanzo di atas kereta yang biasa dinaikinya, Laura terkejut.Bahkan marah. Ia heran mengapa ia mau saja akhirnya ikut naik dan berjalan-jalan bertiga. Di atas kereta, tak henti-hentinya Nellie berceloteh. Ini membuat Laura sakit kepala. Ketika Almanzo menawari Laura untuk berjalan-jalan minggu depan, Nellie dengan cepat menyambar tawaran itu! Ia menjawab: Kami akan menjemputmu! Nellie menjawab tawaran Almanzo atas nama mereka berdua:

Nellie dan Laura! Laura jengkel karena ia tidak menyukai Nellie. Namun, timbul dilema dalam diri Laura. Jika ia tidak mau menemani Almanzo dan Nellie, ia terancam kehilangan Almanzo Nellie akan merebut Almanzo. Jika ia ikut, berarti ia harus tahan dengan tingkah laku dan celotehan Nellie! Akhirnya, dengan akal yang cerdik, Laura membuat Nellie kapok menunggang kereta milik Almanzo: Laura membuat kuda-kuda Almanzo, yang masih belum lancar dalam berjalan pelan itu, meloncat dan lari tunggang langgang. Masih belum puas, ia pun mengerjai Nellie dengan membiarkan Almanzo membawa keretanya melalui jalan yang jelek. Namun, Laura akhirnya bisa mengungkapkan perasaan sebenarnya pada Almanzo. Ketika Almanzo menawari lagi untuk berkereta minggu depan bersama Nellie, Laura menjawab: Kalau kau ingin ditemani Nellie, kau boleh pergi dengannya, tapi jangan lagi menjemputku. Laura, dengan demikian, memaksa Almanzo untuk memilih: ia atau Nellie.

Akhirnya, pada kegiatan-kegiatan berikutnya seperti kursus menyanyi Almanzo hanya mengajak Laura. Di akhir acara kursus menyanyi, di bawah cahaya bintang, ketika mereka dalam perjalanan pulang, Almanzo memberikan cincin pertunangan pada Laura. Di luar rumah Pa, ketika mereka sampai, Almanzo mencium Laura. Itulah ciuman pertama Laura. Ketika Laura masuk rumah, Pa mengaku bahwa Almanzo sebelumnya sudah datang padanya dan mengatakan niatnya tentang cincin itu, dan Pa memang setuju. Ma bergurau: Kadang-kadang, aku berpikir bahwa kau lebih senang pada kudanya daripada kepada majikan kudanya. Laura menjawab jujur: Aku tak bisa memisahkan antara yang satu dan yang lainnya. Begitulah. Hubungan mereka berlanjut ke tahap selanjutnya. Pada suatu senja, ketika Mary sedang pulang ke rumah, Laura berbicara banyak kepada kakaknya itu. Mary pun mengungkapkan semua perasaan hatinya. Ini adalah suatu perbincangan antara kakak-adik yang sangat terbuka dan sangat menyentuh.Mereka mengenang masa lalu, masa ketika mereka berdua menemani Pa dan Ma di ata gerobak mereka, melintasi wilayah Barat Amerika. Keduanya kini menjadi gadis dewasa, dan siap menghadapi dan mengarungi masa depan masing-masing. Mary sempat sedih karena kelak, ketika ia pulang dari Vinton, ia tidak akan mendapati Laura di rumah Pa lagi. Namun, Laura berkata bahwa Mary masih dapat mengunjungi di rumahnya sendiri jika ia nanti sudah menikah dan pindah.

Perkawinan yang awalnya direncanakan masih berlangsung dalam jangka waktu lama, kini harus dipercepat. Almanzo merasa harus mendahului Eliza Jane, kakaknya, dan ibunya, yang merencanakan suatu pesta perkawinan besar-besaran. Almanzo bahkan meminta Laura untuk siap menikah pada akhir minggu ini toh, Almanzo sudah membangun suatu rumah kecil di tanah garapannya. Walaupun agak kaget, Pa dan Ma akhirnya setuju. Laura dan Almanzo akhirnya menikah pada akhir minggu itu. Di hadapan Pendeta Brown mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Pulang dari rumah Pendeta Brown, Laura dan Almanzo pulang dulu ke rumah Pa dan Ma. Mereka bersantap siang. Akhirnya, setelah santap siang, waktunya telah tiba. Laura kini harus berpisah dengan Pa dan Ma, dengan Carrie dan Grace. Pa mengantar dan membantu Laura naik ke atas kereta.
Mungkin itu adalah untuk terakhir kalinya ia membantu Laura naik ke atas kereta. Dan kereta yang berisi Almanzo dan Laura pun mulai berangkat ke rumah kecil mereka yang baru.




back to top ^
Details
Paperback: 404 pages
Publisher: Libri
Edition: 1
Language: Indonesia
ISBN-10: 978-979-687-876-5
ISBN-13: -
Product Dimensions: 11x18x2 cm
Shipping Weight: 260 gr
back to top ^
Table of Content

Laura Meninggalkan Rumah
Hari Pertama Mengajar
Satu Minggu
Giring-giring Kereta Luncur
Menabahkan Diri
Mengendalikan Sekolah
Pisau di Malam Gelap
Perjalanan Dingin
Penilik Sekolah Berkunjung
Almanzo Mengucapkan Selamat Berpisah
Gemerincing Giring-giring
Di Antara Keluarga, Lebih Menyenangkan
Musim Semi
Mempertahankan Tanah Garapan
Mary Pulang
Hari-hari Musim Panas
Menjinakkan Kuda
Sekolah Perry
Kain Poplin Cokelat
Nellie Oleson
Barnum dan Skip
Kursus Menyanyi
Barnum Berjalan.
Almanzo Pergi Jauh
Malam Sebelum Natal
Ujian Guru
Akhir Hari-hari Sekolah
Topi Berwarna Krem
Badai Musim Panas
Senja di Bukit
Rencana Pernikahan
Terburu-buru Menikah
Rumah Kecil Kelabu

back to top ^
Customer Review
Average rating rating
back to top ^