Synopsis

”... hidup itu bekerja memberi buah.”
Filipi 1:22a
”Hidup bukan hanya masalah perut sudah kenyang, rumah sudah nyaman, dan kendaraan sudah punya, tetapi lebih dari itu bahwa dengan segala yang kita miliki, hendaklah kita berbagi dengan sesama melalui pemikiran, perbuatan, dan perkataan.” Itulah prinsip hidup seorang muda bernama Amsal Ginting.
Seorang dokter lulusan sebuah universitas ternama di Indonesia yang memiliki karier cemerlang dan terbuka lebar untuk go international, Amsal Ginting malah memilih ditempatkan di sebuah tempat terpencil yang sering kali dilupakan, nun jauh di timur bumi Sumba, Nusa Tenggara Timur. Bersama rekan-rekannya dari Wahana Visi Indonesia, ia berjuang tanpa pamrih dan tanpa kenal lelah demi memajukan perikehidupan masyarakat setempat.

Yang Telah Selesai dengan Dirinya Sendiri adalah sebuah kisah mengharukan tentang bagaimana menjadi manusia yang tidak hidup hanya untuk diri sendiri, tetapi juga hidup dan berkarya bagi sesama. Sebuah kisah kepahlawanan yang terlupakan dari orang-orang yang bersedia mengorbankan jiwa dan raganya demi pembangunan manusia Indonesia yang seutuhnya di sudut-sudut terpencil negeri ini ….

back to top ^
Editorial Review

Amsal Ginting adalah tipe pemuda idealis yang jarang sekali dilihat di zaman yang serbamaterialis ini, Sekalipun memiliki masa depan yang cerah sebagai seorang dokter lulusan salah satu universitas terbaik di Indonesia dan memiliki kualifikasi internasional, ia memilih untuk mengikuti nazarnya guna melayani sesama yang membutuhkan.

Dan ia mendapatkan daerah pelosok Sumba timur sebagai tempat pelayananan yang mengikat hatinya, bahkan sekalipun ia memiliki kesempatan untuk duduk di jabatan yang lebih tinggi di Jakarta atau bahkan luar negeri. Kecintaannya terhadap Sumba bukan hanya dibuktikan dengan sekadar mengabdikan dirinya untuk melayani dan menolong masyarakat di sana sebagai seorang dokter, tetapi juga mendorong semangat oikumene di sebuah tempat di mana masyarakatnya terkotak-kotak dalam kungkungan denominasi. Bahkan, sekalipun banyak dikecam oleh para pemuka setempat, yang menganggapnya sebagai orang luar yang terlalu mencampuri urusan mereka, ia pun tidak ragu untuk mendorong perubahan budaya lokal yang dianggap membebani masyarakat menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Alhasil, di akhir hidupnya yang tragis karena malpraktik, sumbangsih kepada masyarakat Sumba timur membuatnya dikenang sebagai satu-satunya orang dari luar daerah itu yang mendapatkan penghormatan terakhir dari ribuan pelayat saat jenazahnya dimakamkan di negeri angkatnya itu




back to top ^
Details
Paperback: 164 pages
Publisher: Libri
Edition: 1
Language: Indonesia
ISBN-10: 978-602-7688-60-5
ISBN-13: -
Product Dimensions: 14x21x1 cm
Shipping Weight: 200 gr
back to top ^
Table of Content

Kata Sambutan: Belajar dari Dokter Amsal Ginting
Kata Pengantar
SATU Anak Guru dari Berastagi
DUA Memenuhi Nazar
TIGA Kerja Itu Memberi Buah
EMPAT Tuhan Lebih Menyayangimu
LIMA Kata Hati Uly Agustine
ENAM Selamanya di Bumi Sumba
Epilog: Setelah Kepergian Itu ....
In Memoriam dr. Amsal Ginting (1971–2015)

back to top ^
Customer Review
Average rating rating
back to top ^