Synopsis

Akankah Allah mengizinkanku bercerai dari suamiku yang suka menindas diriku?
Dosakah jika aku menikah lagi?

Perceraian dan pernikahan kembali merupakan isu besar di bidang penggembalaan umat yang dihadapi oleh setiap gereja. Namun, saat kita membuka Alkitab, kita sering kali mendapatkan pesan yang saling bertolak belakang mengenai kedua isu ini. Sebuah kenyataan yang membuat gereja terbagi menjadi dua kubu yang berseteru, antara yang menolak maupun mengizinkan perceraian dan pernikahan kembali dilakukan.

Sekalipun tidak berpretensi memberikan jawaban praktis ”boleh atau tidak boleh bercerai maupun menikah lagi”, Perceraian di Persimpangan Jalan membuka sebuah cakrawala bagaimana, jika dimengerti dengan tepat, Alkitab dapat memberikan tuntunan yang setia, realistis, dan bijaksana mengenai kedua isu penting ini. Menelusuri teks-teks Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru maupun sumber-sumber awal Yudaisme, Kristen, dan Islam—yang merupakan pewaris tradisi Abrahamik—buku yang ditulis lewat riset ilmiah sekaligus kepedulian pastoral ini memberikan pengertian alkitabiah yang menyeluruh mengenai masalah perceraian dan pernikahan kembali bagi para pendeta, konselor dan jemaat awam. Sebuah buku yang dapat memberikan harapan dan tantangan bagi orang-orang yang memikirkan masalah pernikahan, perceraian dan pernikahan kembali.

back to top ^
Editorial Review

Perceraian dan pernikahan kembali merupakan isu besar di bidang penggembalaan umat yang dihadapi oleh setiap gereja. Namun, saat kita membuka Alkitab, kita sering kali mendapatkan pesan yang saling bertolak belakang mengenai kedua isu ini. Sebuah kenyataan yang membuat gereja terbagi menjadi dua kubu yang berseteru, antara yang menolak maupun mengizinkan perceraian dan pernikahan kembali dilakukan.

Buku ini tidak berpretensi memberikan jawaban praktis ”boleh atau tidak boleh bercerai”, tetapi mengajak pembaca melakukan pendalaman terhadap permasalahan ini. Dengan demikian, para pembaca dapat memeriksa berbagai pandangan atau argumentasi serta ketegangan dialektis dari berbagai nilai yang mendasari persoalan perceraian ini.
Dalam usaha untuk memahami isu tersebut, buku ini bukan hanya melakukan penelitian, baik terhadap ”wawasan dunia” Israel dalam Alkitab tentang keluarga dan pernikahan (sebagai bingkai untuk memahami masalah perceraian dalam teks), di dalam teks-teks PL itu sendiri, maupun penerimaannya dalam tradisi gereja, tetapi juga mempelajari penerimaan Yudaisme terhadap teks-teks PL yang berhubungan dengan perceraian. Selain itu, menyadari bahwa agama Abrahamik lainnya, yaitu Islam, telah menjadi semacam penerima teks-teks PL meskipun dalam sebuah perkembangan yang jauh lebih berwarna daripada kekristenan, buku ini juga mencantumkan sebuah esai tentang pengajaran tradisi Islam mengenai perceraian.

Buku ini sendiri dibagi dalam tiga kelompok. Dalam kelompok pertama, disajikan tulisan-tulisan yang membahas soal keluarga dan pernikahan dalam masyarakat Israel (kuno). Kemudian, dalam kelompok kedua disajikan teks-teks yang berkaitan dengan perceraian dibahas dengan berbagai metode (kritik teks, sosiologi, kajian feminis, dan teologis). Di bagian akhir, disajikan tulisan-tulisan yang membahas tentang penerimaan dari tradisi Yudaisme, Islam, dan Kristen mengenai masalah perceraian.

Pada akhirnya, apa pun pelajaran yang ditarik dari artikel-artikel tersebut, penyunting buku ini mengingatkan tentang prinsip kesetiaan dan tanggung jawab dalam pernikahan, yang bermuara pada ajaran Kristen tentang kasih. Tidak seperti gambaran umum tentang kasih sebagai sebuah suasana yang damai, menyenangkan, penuh pengertian, harmonis, dan sejenisnya, buku ini mengajarkan bahwa kasih yang sejati justru tampak ketika orang diperhadapkan pada kondisi yang membuatnya tidak merasakan damai, sesuatu yang menyenangkan, dan seterusnya. Kasih justru menjadi pengikat dari sebuah keadaan yang tampak kacau, ingar-bingar, hancur lebur, yang membuat orang menjadi pesimis. Kekuatan kasih memungkinkan keadaan yang kacau itu tidak sampai berakhir pada kemusnahan. Kasih memungkinkan sebuah harapan di tengah keadaan yang tanpa harap. Kasih juga yang membuat suami dan istri yang sebenarnya sudah tidak cocok lagi memilih untuk tetap bertahan sebagai suami-istri dalam rangka mencoba kemungkinan bahwa akhirnya mereka dapat tetap hidup bersama sebagai suami dan istri.

Pendeknya, mereka yang siap menikah, siap pula dikecewakan oleh pasangannya. Mereka yang siap dikecewakan oleh pasangannya, akan siap untuk mempertahankan pernikahannya.




back to top ^
Details
Paperback: 238 pages
Publisher: BPK Gunung Mulia
Edition: 1
Language: Indonesia
ISBN-10: 978-602-231-254-3
ISBN-13: -
Product Dimensions: 14x21x1 cm
Shipping Weight: 320 gr
back to top ^
Table of Content

Prolog
Bagian 1: KELUARGA DAN PERNIKAHAN ISRAEL KUNO
1. Keluarga dalam Masyarakat Israel (Robert Setio)
2. Perkawinan dalam Kehidupan Israel Alkitab: Tinjauan Sosio-Teologis (Daniel K. Listijabudi)

Bagian 2: KAJIAN TEKSTUAL
3. Abraham Menceraikan Hagar : Memahami Kejadian 21:8-21 dari Perspektif Korban Kekerasan (Monike Hukubun)
4. Larangan Menikah dengan Perempuan yang Telah Bercerai: Kajian Sosio-Historis Terhadap Imamat 21:7, 14 (Febby Nancy Patty)
5. Perceraian dalam Tradisi Tawarikh dan Tandingannya (Agus Santoso)
6. Kawin Campur, Gender, dan Perempuan Asing di Dalam Ezra: Suatu Analisis Poskolonial Feminis Terhadap Perceraian Perempuan Asing di Dalam Ezra 9–10 (Ira Desiawanti Mangililo)
7. Studi Tekstual Maleakhi 2:13–16 (Yonky Karman)

Bagian 3: PERSPEKTIF TRADISI ABRAHAMIK
8. Hukum Perceraian Menurut Tradisi Yahudi Rabinik: Mishnah dan Talmud (Welfrid Fini Ruku)
9. Perceraian dalam Konsep Islam: Studi atas Al Qur’an dan Hadis tentang Konsep Perceraian dan Implikasinya Terhadap Perempuan dan Anak (Marhumah)
10. Ketidakdapatceraian Perkawinan dalam Ajaran Gereja Katolik: Sebuah Telaah Alkitabiah (V. Indra Sanjaya)
11. Perceraian Dilihat dari Perspektif Biblis (Yusak Tridarmanto)
Epilog
Tentang Editor

back to top ^
Customer Review
Average rating rating
back to top ^